Jumat, 01 Desember 2017

MAKAM RAJA-RAJA IMOGIRI



LAPORAN PENELITIAN
MAKAM RAJA-RAJA IMOGIRI: PERSPEKTIF MASYARAKAT
DALAM KAITANNYA TERHADAP TEORI FUNGSIONAL EMILE DURKHEIM (w. 1917)






Diajukan kepada Dosen Pengampu
Khoirulloh Dzikri, S.Ag., MAStRel
Untuk memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Sosiologi Antropologi Agama

Disusun Oleh:
1.      Muhammad Sultan L. F       16530008
2.      Misbahul Khoiriyah              16530010
3.      Maulana Rozali                     16530012
4.      Lalu Ami Aziz S                    16530013
5.      Muhammad Dandi N            16530014
6.      Bahrul Ulum                          16530016
7.      Muhammad Izzul Haq Z      16530021
8.      Fadhlinaa ‘Afiifatul A          16530052


JURUSAN ILMU AL QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017





DAFTAR ISI
COVER
DAFTAR ISI




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Makam Raja-raja Imogiri dibangaun pada 1632 oleh Sultan Mataram III, yaitu Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, yang juga merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, raja mataram I. pemakaman ini dianggap suci dan kramat oleh masyarakat karena yang dimakamkan dalah raja-raja dan keluarga raja dari kesultanan Mataram.
            Diantara makam-makam tersebut, yang paling dimuliakan adalah makam Sultan Agung karena semasa hidupnya beliau merupakan seorang raja yang sangat disegani oleh rakyatnya. Sultan Agung memerintah pada tahun 1613-1645, beliau merupakan raja Mataram ketiga. Pada masa kepemimpinannya, Mataram Islam menjadi kerjaan yang sangat besar.
            Karena alasan tersebut banyak peziarah yang datang ke Makam Raja-raja Imogiri dan tujuan dari peziarah sangat beragam, ada yang hanya ingin melihat-lihat, mendoakan Sultan Agung, mengharap berkah, meminta pesugihan, bahkan ritual-ritual mistis yang tidak dapat dimasuk akal.
            Dalam laporan hasil penelitian ini akan dijelaskan mengenai sejarah, berbagai prespektif dan sudut pandang, serta kaitannya dengan teori fungsional Emile Durkheim.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana sejarah makam Raja-raja Imogiri?
2.      Bagaimana perspektif masyarakat terhadap makam Raja-raja Imogiri?
3.      Teori apa yang mendasari kesakralan makam Raja-raja Imogiri?
4.      Bagaimana analisis keterkaitan perspektif masyarakat terhadap teori Emile Durkheim?

C.    Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yaitu prosedour penelitian yang menghasilkan data deskriptif melalui pengumpulan data. Penelitian ini di mulai dari tanggal 16 sampai 29 november 2017 dilakukan terutama pada hari-hari ramai ketika makam banyak dikunjungi oleh peziarah yaitu hari senin, jum’at, dan hari minggu. Penelitian ini sepenuhnya bersifat penelitian lapangan. Oleh karena itu, peneliti melakukan pengumpulan data dengan metode sebagai berikut:
a)      Interview
Untuk memperoleh data penelitian dilakukan interview atau wawancara terhadap para peziarah dan penjual yang datang ke kompleks makam Raja-raja Imogiri yang dipilih secara acak kemudia diwawancara. Pengambilan data dengan metode ini dilakukan dengan proses tanya jawab yang dilakukan secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian. Selain itu agar diperoleh data yang lengkap dan sempurna maka penulis akan mengadakan wawancara langsung dengan penduduk desa, juru kunci (abdi dalem) makam di kompleks makam Raja-raja Iogiri sehingga dengan cara ini diharapkan data yang diperoleh cukup akurat dan valid.
b)      Observasi
Karena penelitian ini juga menyangkut tentang prosesi ziarah, maka di samping melakukan wawancara, penelitian ini juga menggunakan metode observasi, yaitu dengan mengamati prosesi perziarahan selama di makam. Metode ini menjadi langkah awal bagi penulis untuk mengamati dan meneliti fenomena-fenomena, fakta-fakta yang akan diteliti.
c)      Literature
Untuk memperkuat data sekaligus mengaitkan penelitian dengan teori fungsional Emile Durkheim, peneliti melakukan pengumpulan data dari literature skripsi maupun buku

D.    Landasan Teori

Sebuah agama tidak dapat dilepaskan dalam realitas dunia. Agama memiliki pemaknaan berbeda bagi setiap individu sesuai emosi masing-masing dalam memberi makna terhadap agama. Agama yang muncul merupakan hasil dari refleksifitas manusia terhadap sebuah kejadian atau fenomena di alam dunia. Dalam hal beragama, setiap manusia memiliki ritualnya masing-masing dan ritual tersebut dikeramatkan oleh penganutnya disebabkan adanya kekuatan dan keistimewaan dalam pelaksanaannya. Ritual yang dijalani masyarakat memiliki sebuah kesepakatan moral dan memberikan sebuah fungsi dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut selaras dengan teori fungsional Emile Durkheim. Oleh karena itu, dalam penelitian perspektif masyarakat terhadap makam raja-raja imogiri penulis menggunakan teori tersebut. Munculnya agama menurut Durkheim dari kebutuhan praktik dalam kehidupan sosial. Pertama-tama manusia tidak menemukan dewa-dewa dan baru menghubungkan ide itu dengan aktivitas sosial. Formulasi kognitif tentang ide-ide religius justru merupakan ekspresi-ekspresi perasaan-perasaan sosial yang telah ada sebelumnya, yang mendahului penampilannya dalam refleksi yang sadar.[1] Bagi penganut sebuah agama atau kepercayaan, agama merupakan sesuatu yang nyata dan benar.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah

Makam raja-raja mataram terletak di Imogiri 17 km sebelah tenggara kota Yogyakarta. Makam tersebut berada di wilayah kelurahan girirejo dan kelurahan wukisari. Hal ini disebabkan karena kompleks makam Kasunanan Sukarta berada di wilayah kelurahan Wukirsari. Kedua kelurahan tersebut girijo dan wukirsari berada di wilayah Bantul Yogyakarta. Makam tersebut terletak di pergunungan Imogiri merupakan perbukitan yang ketinggian 85-100 m dari permukaan laut. Makam raja-raja imogiri yang dibangun pada tahun 1632 M.
Makam yang terletak di Gunung Merak ini merupakan makam raja-raja Mataram mulai dari yang ketiga. Raja yang ketiga ialah raja yang dikenal dengan julukan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrokusumo, sedangkan nama aslinya adalah Raden Mas Jatmiko atau dikenal dengan sebutan Raden Mas Rangsang.
Adapun kisah awal mula dibangunnya makam ini berawal pada keistimewaan Sultan Agung yang dapat melaksanakan sholat Jum’at di Mekkah. Pada suatu hari selepas sholat jum’at, Sultan Agung bercakap-cakap dan meminta izin kepada pengurus Mekah untuk dibangunkan makam di kota Mekkah di sebelah barat makam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi permintaan tersebut ditolak dengan alasan hal tersebut tidak baik, sebab Sultan Agung mahkluk campuran ganda yaitu antara manusia dan Dewa, sedangkan yang dikuburkan di Mekkah adalah nabi Muhammad SAW. manusia yang suci.
Pranata dalam bukunya yang berjudul “Sultan Agung”, menceritakan bahwa akibat ditolaknya permintaan pembangunan makamnya di Mekkah ia pergi ke parang kusumo untuk menemui Kanjeng Ratu Gunung Kidul. Setibanya disana, ternyata Sunan Kalijaga sudah menunggu dan menasehati Sultan Agung “Ikutilah tanah yang aku lemparkan ini yang di ambil dari Mekkah, dimana tanah itu jatuh maka bangunlah di atas tanah tersebut makam untuk engkau dan anak cucumu.”
Kemudian tanah yang dilempar oleh Sunan Kalijaga tersebut jatuh di atas bukit yang bernama Imogiri. Dibukit itulah kemudian Sultan Agung dimakamkan.
Pembangunan makam Imogiri tersebut di pengaruhi oleh 3 unsur, yaitu: pengaruh adat Jawa, Hindu dan Islam. Pengaruh adat jawa terlihat dari nama Imogiri, imo yang berarti kabut dan bukit yang berarti Gunung. Pengaruh dari hindu bahwa dibangun di pergunungan, hal ini menyurupai pergunungan himalaya, yang menjadi tempat para Dewa-Dewa. Dan terakhir pengaruh dari Islam adalah bahwa di kompleks pemakamam dibangun sebuah mesjid. Makam tersebut dibangun oleh arsitektur terkenal pada masa itu yang bernama Tumenggung Citro Kusumo.

B.     Pembahasan Hasil Penelitian

1.      Makam Raja-raja Imogiri dan Persepsi Masyarakat
Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri merupakan makam yang masih di sakralkan oleh keluarga keturunan kerajaan Mataram dan kebanyakan masyarakat Jawa. Persepsi ini muncul disebabkan bahwa Raja Mataram merupakan sosok yang dianggap besar dan tinggi sebagai manusia oleh rakyat nya dahulu, sehingga persepsi tersebut bertahan hingga saat ini. Penyakralan makam Raja Mataram di Imogiri oleh keturunan kerajaan merupakan sebuah penghormatan kepada leluhur kerajaan. Pada hari libur seperti Minggu, anggota keturunan kerajaan dari Surakarta maupun Yogyakarta melakukan ziarah kubur ke makam-makam Raja Mataram yang dipuncaki berziarah ke makam Sultan Agung.
Makam Sultan Agung meruapakan makam yang paling disakralkan oleh kebanyakan peziarah. Hal itu disebabkan karena semasa hidupnya, Sultan Agung memiliki keistimewaan yang berbeda dari Raja Mataram lainnya. Dalam hal keistimewaan Sultan Agung, salah satunya masyarakat meyakini bahwa Sultan Agung dapat dengan cepat berpindah untuk melakukan sholat Jum’at di Mekkah. Secara fakta yang dapat diayakini secara rasional, keistimewaan Sutan Agung yaitu sebagai masa kejayaan Kerajaan Mataram karena memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan negeri yang makmur dengan hasil pertaniannya.
Bagi masyarakat Jawa, tak sedikit dari mereka yang percaya bahwa keberadaan makam harus dihormati. Penghormatan ini dilakukan dengan alasan bahwa makam merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi manusia atau leluhurnya. Selain itu, pada makam yang dianggap “istimewa”, tak sedikit juga orang yang percaya bahwa makam tersebut dapat memberikan sesuatu yang diinginkan bagi orang yang menziarahinya. Makam yang dianggap “istimewa” disini biasanya merupakan makam orang-orang yang semasa hidupnya mempunyai kisah yang luar biasa yang mampu membentuk  persepsi masyarakat akan kehebatan dan keistimewaannya. Akan tetapi meskipun memiliki kisah hebat, masing-masing peziarah memiliki persepsi yang berbeda-beda. Persepsi ini dibangun oleh adanya keberhasilan para peziarah setelah melakukan ziarah ke makam tersebut.[2]
Pada umumnya, para peziarah yang datang ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang makam tersebut. Selain itu, tujuan peziarah mengunjungi Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ini juga bermacam-macam. Ada yang bertujuan untuk meneliti, mendoakan para raja, dan ada juga yang  mengharapkan “sesuatu”, seperti berkah, kesehatan, kekayaan, dan keselamatan[3].
Persepsi makam dapat memberikan “sesuatu” ternyata dimiliki oleh Ibu Pujihartono.  Nenek yang biasa berjualan di kompleks makam ini biasa berziarah ke makam Sultan Agung, meskipun tidak setiap hari. Tujuan ia berziarah adalah untuk mendoakan anaknya agar menjadi anak yang pandai dan sukses. Ia percaya bahwa makam Sultan Agung dapat memberikan berkah, sehingga doanya dikabulkan oleh Allah.[4]
Persepsi yang hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Ibu Pujihartono juga dimiliki oleh Ibu Sri Muryanti. Wanita yang berprofersi sebagai tour guide ini mengemukakan bahwa alasannya berziarah adalah untuk mendoakan Sultan Agung, dan mengharap agar diberikan keberkahan dan kesolehan seperti halnya yang didoakan. Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa ia tidak meminta “sesuatu” kepada makam. Dengan tegas ia mengatakan bahwa terkabulnya doa itu kembali kepada Allah.[5]
Selain itu ada peziarah yang memiliki persepsi bahwa apabila dengan berziarah ke makam Sultan Agung, maka ia berpotensi untuk bertemu dengan Sultan Agung baik secara langsung ataupun melalui mimpi. Sdr. Siwo misalnya, ia biasa berziarah ke makam Sultan Agung setiap malam jum’at. Menurutnya, alasan ia berziarah ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri adalah untuk mendoakan arwahSultan Agung melalui bacaan tahlil, dan menjaga “kesinambungan” dengan guru-gurunya. Maksud dari kesinambungan disini adalah untuk menjaga hubungan antara dirinya dengan Sultan Agung yang merupakan guru dari guru-gurunya. Saat berziarah, ia biasa membawa bunga serta membakar dupa. Menurutnya, bunga tersebut sebagai simbol “buah tangan” yang dibawakan si penamu kepada pemilik rumah, sementara dupa hanya sebagai wangi-wangian. Kemudian Sdr. Siwo juga percaya bahwa tak sedikit orang yang memiliki pengalaman spiritual bertemu dengan Sultan Agung, entah secara langsung atau melalui mimpi. Saat ditanya apakah ia pernah bertemu dengan Sultan agung, ia menolak untuk menjawab. Ia menolak untuk menjawab dikarenakan ia takut yang ia temui bukanlah Sultan Agung yang sebenarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bukan tidak mungkin yang ia temui itu adalah setan yang menyamar menjadi Sultan Agung. Jadi, ia lebih memilih untuk tidak menceritakan pengalaman spiritualnya.[6]
Berbeda dengan Sdr. Siwo, ada peziarah yang hanya bertujuan untuk mendoakan para raja saja, dan tidak mengharap apapun. Peziarah yang memiliki perspesi ini misalnya adalah Sutrisno dan Yatno. Menurut Sutrisno,   tujuannya berziarah adalah sebatas mendoakan Sultan Agung dan saudara-saudaranya yang sudah meninggal melalui bacaan tahlil. Selain itu, alasannya memilih makam raja-raja Imogiri sebagai tujuan ziarah adalah sebagai sarana refreshing, dan agar ia tidak melulu melaksanakan tahlil dirumah[7]. Sementara itu menurut Yatno, alasan ia mengunjungi makam raja-raja Imogiri adalah untuk mengunjungi makam Sultan Agung dan sebagai sarana refreshing bersama anaknya[8].
Hampir sama dengan Sutrisno dan Yatno, pihak Kraton juga memiliki persepsi tersendiri. Menurut Bpk. Sarwoko, yang mana adalah salah seorang abdi dalem ia mengemukakan bahwa pihak Kraton tidak mengizinkan bagi orang-orang yang berkunjung dengan niat yang aneh-aneh, seperti pesugihan dan sebagainya. Meskipun demikian, ia tidak menyangkal bahwa tak sedikit orang yang memiliki niat yang aneh-aneh tersebut. Akan tetapi, Bpk. Sarwoko mengatakan bahwa pihak Kraton tidak pernah memberikan fasilitas bagi orang-orang tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa orang yang biasa melakukan ritual tertentu biasa melakukannya di luar makam, dan ia tidak diperbolehkan masuk.[9]
Kemudian ada juga peziarah yang mengunjungi Makam Raja-Raja Mataram Imogiri dengan alasan tradisi dari keluarganya. Persepsi ini diungkapkan oleh Roro. Menurutnya, keluarganya mewajibkan untuk berziarah ke Makam Raja-Raja Imogiri setiap tahun, dikarenakan sudah menjadi tradisi keluarga.[10]
Selain itu, mengingat makam ini juga merupakan tempat wisata, maka tak jarang kita menemukan wisatawan domestik maupun mancanegara yang memiliki tujuan untuk berwisata. Kebanyakan dari wisatawan tersebut bertujuan untuk menikmati keidahan alam pengunungan merak tersebut. Ungki dan Lina misalnya, mereka berkunjung ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ini hanyalah sebagai sarana refreshing saja. Mereka mengaku ingin melupakan sejenak hiruk pikuk perkotaan dengan menikmati pemandangan alam dan lingkungan yang sejuk. Saat ditanya mengenai peziarah yang mengaku mendapatkan “sesuatu” setelah ziarah, mereka mengaku tidak percaya dan menganggap hal tersebut hanyalah sebatas sugesti. Meskipun demikian, mereka mengaku tetap menghormati para peziarah yang percaya hal-hal tersebut.[11] Persepsi hampir sama dengan yang diungkapkan Ungki dan Lina juga dimiliki oleh Amin. Pria yang biasa berjualan di komplek Makam Raja-Raja Mataram Imogiri in mengaku tidak pernah berziarah ke makam tersebut. Menurutnya, mendoakan orang yang sudah meninggal cukup dilakukan di rumah saja, dan tidak harus dilakukan di makam. Kemudian ia juga berpendapat bahwa apabila berziarah harus memiliki pemahaman agama yang bagus. Hal ini dikarenakan, apabila tidak memiliki pemahaman yang baik, maka ditakutkan akan menimbulkan kemusyrikan.[12]
2.      Pakaian Adat dan Persepsi Masyarakat
Pakaian yang digunakan ketika memasuki makam raja-raja Imogiri ialah pakaian adat Jawa. Untuk peziarah laki-laki harus mengenakan pakaian jawa berupa blangkon, beskap, kain, sabuk, timang dan samir. Sedangkan untuk peziarah perempuan harus mamakai kemben dan kain panjang.
Penggunaan pakaian adat tersebut merupakan aturan wajib. Hal tersebut menurut persepsi umum hanya karena alasan mempertahankan tradisi. Akan tetapi dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman seseorang, persepsi tersebut berkembang. Tidak hanya sebatas tradisi namun memiliki makna filosofis dan konsekuensi tersendiri ketika melanggarnya.
Sebagai seorang muslim yang mengenal aturan berpakaian sesuai dengan ajaran islam, tidak jarang muncul pertanyaan bahwa pakaian yang digunakan peziarah perempuan tidak menutup aurat padahal bukankah raja-raja imogiri adalah raja-raja islam? Hal tersebut disangkal oleh Roro.[13] Ia mengatakan bahwa Kerajaan mataram merupakan kerajan islam ditanah jawa yang masih tercampur dengan budaya hindu. Sehingga secara adat istiadatnya tidak sepenuhnya mengikuti syari’at islam, melainkan akulturasi budaya Jawa, Islam dan Hindu.[14]
Penggunaan pakaian adat jawa adalah hal lumrah yang digunakan warga keraton saat jumeneng menghadap raja. Sebagaimana persepsi yang dipaparkan abdi dalem makam raja-raja imogiri terkait alasan peraturan pemakaian pakaian tersebut adalah untuk melestarikan tradisi menghadap raja sebagaimana ketika raja masih hidup.[15]
Sementara itu menurut pak Jogosutrisno, alasan pergantian pakaian tersebut sebagai simbol perpindahan dari alam dunia ke alam akhirat. Dimana tujuan orang berziarah adalah mengingat mati, mengingat akhirat. Sehingga perlu melepaskan pakaian-pakaian duniawi supaya lebih komprehensif dalam melakukan ziarah.
Lain halnya persepsi yang dipaparkan oleh Anik[16] bahwa pelanggaran peraturan pemakaian adat ada konsekuensinya. Apabila menggunakan pakaian yang tidak sesuai, maka saat berada diarea makam akan diweruhi.[17] Anik mengaku bahwa sosoknya yang kini telah memahami ajaran islam secara lebih mendalam, ia tidak sampai hati untuk membuka kerudung mengikuti aturan pakaian peziarah. Anik juga tidak ingin melihat hal-hal yang tak diinginkan. Sehingga ia memilih menunggu para kerabatnya yang berziarah diluar makam. Ia mengatakan percaya pada hal ghoib bukan berarti syirik tapi menegaskan bahwa di Islam pun juga diajarkan untuk mempercayai hal-hal yang ghoib.[18]

3.      Gentong atau Kong, Air dan Persepsi Masyarakat
Gentong atau Kong ini berjumlah empat buah yang letaknya disebelah utara pendopo Supit Urang. Masing-masing diletakkan diatas dasar batu berbentuk persegi panjang yang dibawahnya dipasang batu hitam sebagai pondasi. Keempat gentong ini merupakan hadiah persahabatan dagang antara kerajaan Mataram dengan Palembang, Aceh, Turki dan Thailand. Setelah Sultan Agung wafat keempat gentong ini ditempatkan di makam raja-raja Mataram di Imogri, sebagai tempat air untuk berwudhu. Pada awalnya air yang  berasal dari gentong ini hanya boleh digunakan oleh kerabat kraton saja, tetapi lama-kelamaan masyarakat dapat meminta airnya.[19]
Air di dalam gentong ini berasal dari sumber air bekung yang jaraknya sekitar 7  km dari makam. Air dari gentong  ini dipercaya dapat membawa berkah. [20]
Menurut Abdi Dalem, air yang berasal dari gentong ini hanya dapat diminum saat ada keperluan saja, diiringi dengan niat dalam hati serta bacaan basmallah sebelum meminumnya. Dari pemaparannya bahwasanya air ini bisa dicampur dengan air tawar biasa, tetapi air yang berasal dari gentong ini tidak boleh dimasak karena akan menghilangkan sifat kemurniannya.[21]
Sementara itu menurut Pak Jogosutrisno yang juga seorang abdi dalem, sebelum meminum air tersebut dianjurkan membaca Al-Fatihah disertai hajat yang diinginkan. Kemudian ia menambahkan bahwa air ini hanya sebagai perantara saja. Mengenai terkabulnya hajat kembali pada kehendak Allah.[22]
4.      Tangga dan Filosofinya
Bagi masyarakat Jawa, makam Imogiri yang dibangun tahun 163 itu memiliki nilai sakral yang tinggi.
Tangga yang mulai dari Masjid berjumlah sebanyak 409 trap, anak tangga ini merupakan jalan untuk menuju ke puncak makam. Menurut mitos, seperti yang diceritakan oleh narasumber, bahwasanya untuk mencapai puncak tangga makam lokasinya cukup tinggi. Tangga ini bisa dijadikan ramalan nasib para peziarah. Mitos setempat menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga waktu peziarah naik dengan waktu peziarah turun secara benar dan jumlahnya sama maka keinginannya akan terkabul.[23]
Anak tangga yang berjumlah 409 ini mengandung makna bahwa kitab suci ada 4, angka 0 melambangkan tahun suci dan angka 9 melambangkan penyebar agama Islam di Jawa, yaitu wali yang sembilan yakni Walisongo.[24]
Banyak orang Jawa percaya bahwa orang yang mempunyai niat buruk tidak akan bisa mendekati sebuah keramatan, karena makam-makam suci dijaga oleh para jin, yang bisa melihat kemurnian niat para peziarah  dan  mengusir mereka yang berkenginan tidak baik.[25]

C.    Analisis Teori

Berkaitan dengan teori munculnya agama menurut Durkheim dan kasus persepsi masyarakat terhadap makam Raja Mataram di Imogiri, dapat diketahui bahwa masih ada sebuah kepercayaan dalam masyarakat yang masih memiliki sifat primitif. Primitif disini bermaksud bahwa masyarakat masih meyakini hal-hal ghaib terhadap benda dan makam. Keyakinan dengan mendo’a kan raja yang dianggap memiliki kebesaran dan do’a tersebut akan melimpah kepada si pendo’a merupakan sebuah perspektif yang banyak beredar dalam masyarakat. Perspektif tersebut dikuatkan dengan hasil wawancara kami dengan seseorang yang bernama Sri Muryanti. Wanita yang berprofersi sebagai tour guide ini mengemukakan bahwa alasannya berziarah adalah untuk mendoakan Sultan Agung, dan mengharap agar diberikan keberkahan dan kesolehan seperti halnya yang didoakan, yakni Sultan Agung. Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa ia tidak meminta “sesuatu” kepada makam. Dengan tegas ia mengatakan bahwa terkabulnya doa itu kembali kepada Allah.[26]
Selain perspektif yang telah dijelaskan, terdapat sebuah keyakinan yang bersifat mistis, yaitu seperti meminta pesugihan dan keberkahan. Dalam hal ini, peneliti langsung melihat seorang wanita parubaya meminta bunga yang ditabur diatas makam untuk dibawa dan digunakan saat mandi. Namun peneliti tidak mengetahui maksud pribadi dari wanita tersebut dikarenakan tidak dapat mewawancarainya secara langsung. Di dalam makam juga terdapat sebuah gentong yang diyakini berasal dari empat kerajaan, yaitu : Palembang, Aceh, Turki dan Thailand. Banyak masyarakat yang meyakini seperti Ibu Sri Muryanti, bahwa jika kita meminum air dalam gentong akan terkabul hajatnya karena air yang diminum merupakan air yang terkena limpahan do’a dari para peziarah, selain gentong juga terdapat mitos tentang anak tangga yang jika pengunjung dapat menghitung saat menaiki dan menuruni tangga kemudian jumlahnya sama saat naik dan turun, maka orang tersebut akan terpenuhi hajatnya, informasi tersebut diperoleh dari wawancara dengan saudara Siwo.
Dapat kita analisis, bahwa perspektif dari masyarakat terhadap makam raja-raja Imogiri, benda serta mitos yang ada memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat yang melaksanakan ritualnya. Melakukan ziarah dan mendo’akan raja, maka si pendo’a akan mendapatkan keberkahan seperti yang didapat oleh raja semasa hidup seperti kejayaan dan kekuatan, menghitung anak tangga dan meminum air dalam gentong dapat membuat hajat tercapai, merupakan realita yang saling berkaitan dengan teorinya Emile Durkheim yang menyatakan bahwa sebuah agama muncul karena adanya sebuah kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sosialnya, lalu kebutuhan tersebut di aplikasikan dalam bentuk sebuah ritual dan adat istiadat yang sakral.
























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Makam Raja-raja Imogiri mataram terletak berada di wilayah kelurahan girirejo dan kelurahan wukisari. Makam tersebut merupakan makam yang masih di sakralkan oleh keluarga keturunan kerajaan Mataram dan kebanyakan masyarakat Jawa.
Pada umumnya, para peziarah yang datang ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang makam tersebut. Selain itu, tujuan peziarah mengunjungi Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ini juga bermacam-macam. Ada yang bertujuan untuk meneliti, mendoakan para raja, dan ada juga yang  mengharapkan sesuatu, seperti berkah, kesehatan, kekayaan, dan keselamatan.
Teori Durkheim berkenaan dengan perspektif masyarakat terhadap makam raja-raja Imogiri merupakan sebuah keterkaitan dalam analisis tulisan ini. Makam Imogiri dianggap sakral oleh masyarakat karena raja yang dimakamkan memiliki keistimewaan sewaktu hidupnya. Air dalam gentong, dan benda yang dikeramatkan merupakan sebuah penyakralan oleh masyarakat. Berkaitan dengan ini, teori Durkheim juga membahas tentang pembagian agama dalam dua hal yaitu sakral dan profan. Dalam hal sakral, masyarakat memiliki kesepakatan terhadap benda-benda yang di sakralkan, karena kesakralan tersebut bersifat global. Berkaitan dengan hal profan, hal tersebut menjadi pandangan yang bersifat personal karena lebih bersifat ke hal duniawi.
Sistem kepercayaan yang dianut dalam masyarakat terhadap tradisi yang ada dalam makam raja-raja Mataram memiliki fungsi bagi masyarakatnya. Fungsi tersebut tampak jelas dari keyakinan yang dianut, seperti meminum air di gentong akan memudahkan dalam mencapai hajatnya. Oleh karena itu, fungsi tersebut menjadi sebuah pola hidup yang bersifat mengakar dan menjadi kesepakatan moral yang mentradisi.

DAFTAR PUSTAKA


Haryono, K, “Motivasi dan Prosesi Peziarah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri”, Skripsi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2007. 
Imam Muhni, D, Moral dan Religi, Yogyakarta: Kanisius, 1994.
Rofiqoh, “Pengaruh Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri dalam Pandangan Masyarakat”, Skripsi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2006.


DAFTAR WAWANCARA


Senin, 20 November 2017
Wawancara dengan Pujihartono, penjual di area makam
Wawancara dengan Sri Muryati, tour guide
Wawancara dengan Amin, penduduk asli dan penjual di area makam
Wawancara dengan beberapa abdi Dalem
Wawancara dengan Ungki dan Lina, wisatawan
Wawancara dengan Ibu Sri Sumiyati
Kamis, 24 November 2017
Wawancara dengan Siwo, peziarah
Sabtu, 26 November 2017
Wawancara dengan Sutrisno, peziarah
Wawancara dengan Yatno, peziarah
Wawancara dengan Sarwoko, abdidalem
Wawancara dengan Roro, peziarah trah keturunan raja mataram ketiga
Wawancara dengan Anik, peziarah trah keturunan raja mataram ketiga
Wawancara dengan Jogosutrisno, abdidalem
Wawancara dengan beberapa juru kunci makam




LAMPIRAN FOTO


Tim Peneliti 







Proses Wawancara



 








Pelayanan Air dan Tahlilan di Area Makam

















[1] Djuret A. Imam Muhni, Moral dan Religi, (Yogyakarta, Kanisius, 1994), hlm. 46.
[2]Kholid Haryono, “Motivasi dan Prosesi Peziarah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri”, Skripsi (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2007), hlm 64-65
[3]Wawancara dengan Siwo, Peziarah tanggal 24 November 2017
[4]Wawancara dengan Pujihartono, penjual di area makam tanggal 20 November 2017
[5]Wawancara dengan Sri Muryanti, tour guidetanggal 20 November 2017
[6]Wawancara dengan Siwo, peziarah tanggal 24 November 2017
[7]Wawancara dengan Sutrisno, peziarah tanggal 26 November 2017
[8]Wawancara dengan Yatno,  peziarah tanggal 26 November 2017
[9]Wawancara dengan Sarwoko, Abdi Dalem tanggal 26 November 2017
[10]Wawancara dengan Roro, peziarah tanggal 26 November 2017
[11]Wawancara dengan Ungki dan Lina, wisatawan tanggal 20 November 2017
[12]Wawancara dengan Amin , penjual tanggal 20 November 2017
[13] Keturunan raja mataram ke-tiga
[14]Wawancara dengan Roro, tanggal 26 November 2017
[15]Wawancara dengan Abdi dalem, tanggal 20 November 2017
[16]Keturunan raja mataram ke-tiga
[17]Diperlihatkan hal-hal aneh seperti penampakan makhluk halus (putih-putih, dsb)
[18]Wawancara dengan Anik, tanggal 26 November 2017
[19] Wawancara dengan Ibu Sri Sumiyati, tanggal 20 November 017.
[20] Ibid.
[21] Wawancara dengan Abdi Dalem, tanggal 20 November 2017.
[22] Wawancara dengan Pak Jogosutrisno, Abdi Dalem, tanggal 26 November 2017
[23] Wawancara dengan Ibu Sri Sumiyati, tanggal Duapuluh November 017.
[24]Skripsi  Rofikoh, hal. 34
[25] Ibid.hlm. 35
[26]Wawancara dengan Sri Muryanti, tour guide tanggal 20 November 2017

0 komentar:

Posting Komentar