LAPORAN
PENELITIAN
MAKAM RAJA-RAJA
IMOGIRI: PERSPEKTIF MASYARAKAT
DALAM
KAITANNYA TERHADAP TEORI FUNGSIONAL EMILE DURKHEIM (w. 1917)
Diajukan kepada Dosen
Pengampu
Khoirulloh Dzikri, S.Ag., MAStRel
Untuk memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Sosiologi Antropologi Agama
Khoirulloh Dzikri, S.Ag., MAStRel
Untuk memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Sosiologi Antropologi Agama
Disusun Oleh:
1.
Muhammad Sultan L. F 16530008
2.
Misbahul Khoiriyah 16530010
3.
Maulana Rozali 16530012
4.
Lalu Ami Aziz S 16530013
5.
Muhammad Dandi N 16530014
6.
Bahrul Ulum 16530016
7.
Muhammad Izzul Haq Z 16530021
8.
Fadhlinaa ‘Afiifatul A 16530052
JURUSAN ILMU AL QURAN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
DAFTAR ISI
COVER
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makam Raja-raja Imogiri
dibangaun pada 1632 oleh Sultan Mataram III, yaitu Sultan Agung Prabu
Hanyokrokusumo, yang juga merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, raja
mataram I. pemakaman ini dianggap suci dan kramat oleh masyarakat karena yang
dimakamkan dalah raja-raja dan keluarga raja dari kesultanan Mataram.
Diantara
makam-makam tersebut, yang paling dimuliakan adalah makam Sultan Agung karena
semasa hidupnya beliau merupakan seorang raja yang sangat disegani oleh
rakyatnya. Sultan Agung memerintah pada tahun 1613-1645, beliau merupakan raja
Mataram ketiga. Pada masa kepemimpinannya, Mataram Islam menjadi kerjaan yang
sangat besar.
Karena
alasan tersebut banyak peziarah yang datang ke Makam Raja-raja Imogiri dan
tujuan dari peziarah sangat beragam, ada yang hanya ingin melihat-lihat,
mendoakan Sultan Agung, mengharap berkah, meminta pesugihan, bahkan
ritual-ritual mistis yang tidak dapat dimasuk akal.
Dalam
laporan hasil penelitian ini akan dijelaskan mengenai sejarah, berbagai prespektif dan sudut pandang, serta kaitannya dengan teori
fungsional Emile Durkheim.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah
makam Raja-raja Imogiri?
2.
Bagaimana perspektif
masyarakat terhadap makam Raja-raja Imogiri?
3.
Teori apa yang
mendasari kesakralan makam Raja-raja Imogiri?
4.
Bagaimana analisis
keterkaitan perspektif masyarakat terhadap teori Emile Durkheim?
C. Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis
penelitian kualitatif yaitu prosedour penelitian yang menghasilkan data
deskriptif melalui pengumpulan data. Penelitian ini di
mulai dari tanggal 16 sampai 29 november 2017 dilakukan terutama pada hari-hari
ramai ketika makam banyak dikunjungi oleh peziarah yaitu hari senin, jum’at,
dan hari minggu. Penelitian ini sepenuhnya bersifat penelitian lapangan. Oleh karena itu, peneliti melakukan
pengumpulan data dengan metode sebagai berikut:
a) Interview
Untuk memperoleh data penelitian
dilakukan interview atau wawancara terhadap para peziarah dan penjual yang datang ke
kompleks makam Raja-raja Imogiri yang
dipilih secara acak kemudia diwawancara. Pengambilan
data dengan metode ini dilakukan dengan proses tanya jawab yang dilakukan
secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian. Selain itu agar
diperoleh data yang lengkap dan sempurna maka penulis akan mengadakan wawancara
langsung dengan penduduk desa, juru kunci
(abdi dalem) makam di kompleks makam Raja-raja Iogiri
sehingga dengan cara ini diharapkan data yang diperoleh cukup akurat dan valid.
b) Observasi
Karena penelitian ini juga menyangkut
tentang prosesi ziarah, maka di samping melakukan wawancara, penelitian ini
juga menggunakan metode observasi, yaitu dengan mengamati prosesi perziarahan
selama di makam. Metode ini menjadi langkah awal bagi penulis untuk mengamati
dan meneliti fenomena-fenomena, fakta-fakta yang akan diteliti.
c) Literature
Untuk memperkuat data sekaligus mengaitkan penelitian
dengan teori fungsional Emile Durkheim, peneliti melakukan pengumpulan data
dari literature skripsi maupun buku
D. Landasan Teori
Sebuah agama
tidak dapat dilepaskan dalam realitas dunia. Agama memiliki pemaknaan berbeda
bagi setiap individu sesuai emosi masing-masing dalam memberi makna terhadap
agama. Agama yang muncul merupakan hasil dari refleksifitas manusia terhadap
sebuah kejadian atau fenomena di alam dunia. Dalam hal beragama, setiap manusia
memiliki ritualnya masing-masing dan ritual tersebut dikeramatkan oleh
penganutnya disebabkan adanya kekuatan dan keistimewaan dalam pelaksanaannya.
Ritual yang dijalani masyarakat memiliki sebuah kesepakatan moral dan
memberikan sebuah fungsi dalam kehidupan masyarakat.
Hal tersebut selaras dengan teori fungsional Emile Durkheim. Oleh karena
itu, dalam penelitian perspektif masyarakat terhadap makam raja-raja imogiri
penulis menggunakan teori tersebut. Munculnya agama menurut Durkheim dari
kebutuhan praktik dalam kehidupan sosial. Pertama-tama manusia tidak menemukan
dewa-dewa dan baru menghubungkan ide itu dengan aktivitas sosial. Formulasi
kognitif tentang ide-ide religius justru merupakan ekspresi-ekspresi
perasaan-perasaan sosial yang telah ada sebelumnya, yang mendahului
penampilannya dalam refleksi yang sadar.[1] Bagi penganut
sebuah agama atau kepercayaan, agama merupakan sesuatu yang nyata dan benar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Makam raja-raja mataram terletak di Imogiri
17 km sebelah tenggara kota Yogyakarta. Makam tersebut berada di wilayah
kelurahan girirejo dan kelurahan wukisari. Hal ini disebabkan karena kompleks
makam Kasunanan Sukarta berada di wilayah kelurahan Wukirsari. Kedua kelurahan
tersebut girijo dan wukirsari berada di wilayah Bantul Yogyakarta. Makam tersebut
terletak di pergunungan Imogiri
merupakan perbukitan yang ketinggian 85-100 m dari permukaan laut. Makam
raja-raja imogiri yang dibangun pada tahun 1632 M.
Makam yang terletak di Gunung Merak ini
merupakan makam raja-raja Mataram mulai dari yang ketiga. Raja yang ketiga
ialah raja yang dikenal dengan julukan Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrokusumo,
sedangkan nama aslinya adalah Raden Mas Jatmiko atau dikenal dengan sebutan
Raden Mas Rangsang.
Adapun kisah awal mula dibangunnya makam
ini berawal pada keistimewaan Sultan
Agung yang dapat melaksanakan
sholat Jum’at di Mekkah. Pada
suatu hari selepas sholat jum’at, Sultan
Agung bercakap-cakap dan
meminta izin kepada pengurus Mekah
untuk dibangunkan makam di kota Mekkah
di sebelah barat makam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi permintaan tersebut
ditolak dengan alasan hal tersebut tidak baik, sebab Sultan Agung mahkluk
campuran ganda yaitu antara manusia dan Dewa, sedangkan yang dikuburkan di Mekkah adalah nabi Muhammad SAW. manusia yang suci.
Pranata dalam bukunya yang berjudul “Sultan Agung”,
menceritakan bahwa akibat ditolaknya permintaan pembangunan makamnya di Mekkah ia pergi ke parang
kusumo untuk menemui Kanjeng Ratu Gunung Kidul. Setibanya disana, ternyata
Sunan Kalijaga sudah menunggu dan menasehati Sultan Agung “Ikutilah tanah yang
aku lemparkan ini yang di ambil dari Mekkah, dimana tanah itu jatuh maka
bangunlah di atas tanah tersebut makam untuk engkau dan anak cucumu.”
Kemudian tanah yang dilempar oleh Sunan
Kalijaga tersebut jatuh di atas bukit yang bernama Imogiri. Dibukit itulah
kemudian Sultan Agung dimakamkan.
Pembangunan makam Imogiri tersebut di
pengaruhi oleh 3 unsur, yaitu: pengaruh adat Jawa, Hindu dan Islam. Pengaruh
adat jawa terlihat dari nama Imogiri, imo yang berarti kabut dan bukit yang
berarti Gunung. Pengaruh dari hindu bahwa dibangun di pergunungan, hal ini
menyurupai pergunungan himalaya, yang menjadi tempat para Dewa-Dewa. Dan
terakhir pengaruh dari Islam adalah bahwa di kompleks pemakamam dibangun sebuah
mesjid. Makam tersebut dibangun oleh arsitektur terkenal pada masa itu yang
bernama Tumenggung Citro Kusumo.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Makam Raja-raja Imogiri dan Persepsi Masyarakat
Makam Raja-Raja Mataram di
Imogiri merupakan makam yang masih di sakralkan oleh keluarga keturunan
kerajaan Mataram dan kebanyakan masyarakat Jawa. Persepsi ini muncul disebabkan
bahwa Raja Mataram merupakan sosok yang dianggap besar dan tinggi sebagai manusia
oleh rakyat nya dahulu, sehingga persepsi tersebut bertahan hingga saat ini. Penyakralan
makam Raja Mataram di Imogiri oleh keturunan kerajaan merupakan sebuah
penghormatan kepada leluhur kerajaan. Pada hari libur seperti Minggu, anggota
keturunan kerajaan dari Surakarta maupun Yogyakarta melakukan ziarah kubur ke
makam-makam Raja Mataram yang dipuncaki berziarah ke makam Sultan Agung.
Makam Sultan Agung meruapakan makam yang
paling disakralkan oleh kebanyakan peziarah. Hal itu disebabkan karena semasa
hidupnya, Sultan Agung memiliki keistimewaan yang berbeda dari Raja Mataram
lainnya. Dalam hal keistimewaan Sultan Agung, salah satunya masyarakat meyakini
bahwa Sultan Agung dapat dengan cepat berpindah untuk melakukan sholat Jum’at
di Mekkah. Secara fakta yang dapat diayakini secara rasional, keistimewaan
Sutan Agung yaitu sebagai masa kejayaan Kerajaan Mataram karena memiliki
wilayah kekuasaan yang luas dan negeri yang makmur dengan hasil pertaniannya.
Bagi masyarakat Jawa, tak sedikit
dari mereka yang percaya bahwa keberadaan makam harus dihormati. Penghormatan
ini dilakukan dengan alasan bahwa makam merupakan tempat peristirahatan
terakhir bagi manusia atau leluhurnya. Selain itu, pada makam yang dianggap
“istimewa”, tak sedikit juga orang yang percaya bahwa makam tersebut dapat
memberikan sesuatu yang diinginkan bagi orang yang menziarahinya. Makam yang
dianggap “istimewa” disini biasanya merupakan makam orang-orang yang semasa
hidupnya mempunyai kisah yang luar biasa yang mampu membentuk persepsi masyarakat akan kehebatan dan
keistimewaannya. Akan tetapi meskipun memiliki kisah hebat, masing-masing
peziarah memiliki persepsi yang berbeda-beda. Persepsi ini dibangun oleh adanya
keberhasilan para peziarah setelah melakukan ziarah ke makam tersebut.[2]
Pada umumnya, para peziarah yang
datang ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri memiliki persepsi yang berbeda-beda
tentang makam tersebut. Selain itu, tujuan peziarah mengunjungi Makam Raja-Raja
Mataram Imogiri ini juga bermacam-macam. Ada yang bertujuan untuk meneliti,
mendoakan para raja, dan ada juga yang
mengharapkan “sesuatu”, seperti berkah, kesehatan, kekayaan, dan
keselamatan[3].
Persepsi makam dapat memberikan
“sesuatu” ternyata dimiliki oleh Ibu Pujihartono. Nenek yang biasa berjualan di kompleks makam ini
biasa berziarah ke makam Sultan Agung, meskipun tidak setiap hari. Tujuan ia
berziarah adalah untuk mendoakan anaknya agar menjadi anak yang pandai dan
sukses. Ia percaya bahwa makam Sultan Agung dapat memberikan berkah, sehingga
doanya dikabulkan oleh Allah.[4]
Persepsi yang hampir sama dengan
yang diungkapkan oleh Ibu Pujihartono juga dimiliki oleh Ibu Sri Muryanti.
Wanita yang berprofersi sebagai tour guide ini mengemukakan bahwa
alasannya berziarah adalah untuk mendoakan Sultan Agung, dan mengharap agar
diberikan keberkahan dan kesolehan seperti halnya yang didoakan. Dalam hal ini,
ia menegaskan bahwa ia tidak meminta “sesuatu” kepada makam. Dengan tegas ia
mengatakan bahwa terkabulnya doa itu kembali kepada Allah.[5]
Selain itu ada peziarah yang
memiliki persepsi bahwa apabila dengan berziarah ke makam Sultan Agung, maka ia
berpotensi untuk bertemu dengan Sultan Agung baik secara langsung ataupun
melalui mimpi. Sdr. Siwo misalnya, ia biasa berziarah ke makam Sultan Agung
setiap malam jum’at. Menurutnya, alasan ia berziarah ke Makam Raja-Raja Mataram
Imogiri adalah untuk mendoakan arwahSultan Agung melalui bacaan tahlil, dan menjaga
“kesinambungan” dengan guru-gurunya. Maksud dari kesinambungan disini adalah
untuk menjaga hubungan antara dirinya dengan Sultan Agung yang merupakan guru
dari guru-gurunya. Saat berziarah, ia biasa membawa bunga serta membakar dupa.
Menurutnya, bunga tersebut sebagai simbol “buah tangan” yang dibawakan si
penamu kepada pemilik rumah, sementara dupa hanya sebagai wangi-wangian. Kemudian
Sdr. Siwo juga percaya bahwa tak sedikit orang yang memiliki pengalaman
spiritual bertemu dengan Sultan Agung, entah secara langsung atau melalui
mimpi. Saat ditanya apakah ia pernah bertemu dengan Sultan agung, ia menolak
untuk menjawab. Ia menolak untuk menjawab dikarenakan ia takut yang ia temui
bukanlah Sultan Agung yang sebenarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bukan
tidak mungkin yang ia temui itu adalah setan yang menyamar menjadi Sultan
Agung. Jadi, ia lebih memilih untuk tidak menceritakan pengalaman spiritualnya.[6]
Berbeda dengan Sdr. Siwo, ada
peziarah yang hanya bertujuan untuk mendoakan para raja saja, dan tidak
mengharap apapun. Peziarah yang memiliki perspesi ini misalnya adalah Sutrisno
dan Yatno. Menurut Sutrisno, tujuannya
berziarah adalah sebatas mendoakan Sultan Agung dan saudara-saudaranya yang
sudah meninggal melalui bacaan tahlil. Selain itu, alasannya memilih makam
raja-raja Imogiri sebagai tujuan ziarah adalah sebagai sarana refreshing,
dan agar ia tidak melulu melaksanakan tahlil dirumah[7]. Sementara itu menurut
Yatno, alasan ia mengunjungi makam raja-raja Imogiri adalah untuk mengunjungi
makam Sultan Agung dan sebagai sarana refreshing bersama anaknya[8].
Hampir sama dengan Sutrisno dan
Yatno, pihak Kraton juga memiliki persepsi tersendiri. Menurut Bpk. Sarwoko,
yang mana adalah salah seorang abdi dalem ia mengemukakan bahwa pihak Kraton
tidak mengizinkan bagi orang-orang yang berkunjung dengan niat yang aneh-aneh,
seperti pesugihan dan sebagainya. Meskipun demikian, ia tidak menyangkal
bahwa tak sedikit orang yang memiliki niat yang aneh-aneh tersebut. Akan
tetapi, Bpk. Sarwoko mengatakan bahwa pihak Kraton tidak pernah memberikan fasilitas
bagi orang-orang tersebut. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa orang yang biasa
melakukan ritual tertentu biasa melakukannya di luar makam, dan ia tidak
diperbolehkan masuk.[9]
Kemudian ada juga peziarah yang
mengunjungi Makam Raja-Raja Mataram Imogiri dengan alasan tradisi dari
keluarganya. Persepsi ini diungkapkan oleh Roro. Menurutnya, keluarganya
mewajibkan untuk berziarah ke Makam Raja-Raja Imogiri setiap tahun, dikarenakan
sudah menjadi tradisi keluarga.[10]
Selain itu, mengingat makam ini
juga merupakan tempat wisata, maka tak jarang kita menemukan wisatawan domestik
maupun mancanegara yang memiliki tujuan untuk berwisata. Kebanyakan dari
wisatawan tersebut bertujuan untuk menikmati keidahan alam pengunungan merak
tersebut. Ungki dan Lina misalnya, mereka berkunjung ke Makam Raja-Raja Mataram
Imogiri ini hanyalah sebagai sarana refreshing saja. Mereka mengaku ingin
melupakan sejenak hiruk pikuk perkotaan dengan menikmati pemandangan alam dan
lingkungan yang sejuk. Saat ditanya mengenai peziarah yang mengaku mendapatkan
“sesuatu” setelah ziarah, mereka mengaku tidak percaya dan menganggap hal
tersebut hanyalah sebatas sugesti. Meskipun demikian, mereka mengaku tetap
menghormati para peziarah yang percaya hal-hal tersebut.[11] Persepsi hampir sama
dengan yang diungkapkan Ungki dan Lina juga dimiliki oleh Amin. Pria yang biasa
berjualan di komplek Makam Raja-Raja Mataram Imogiri in mengaku tidak pernah
berziarah ke makam tersebut. Menurutnya, mendoakan orang yang sudah meninggal
cukup dilakukan di rumah saja, dan tidak harus dilakukan di makam. Kemudian ia
juga berpendapat bahwa apabila berziarah harus memiliki pemahaman agama yang
bagus. Hal ini dikarenakan, apabila tidak memiliki pemahaman yang baik, maka
ditakutkan akan menimbulkan kemusyrikan.[12]
2.
Pakaian
Adat dan Persepsi Masyarakat
Pakaian yang digunakan ketika memasuki
makam raja-raja Imogiri ialah pakaian adat Jawa. Untuk peziarah laki-laki harus
mengenakan pakaian jawa berupa blangkon, beskap, kain, sabuk, timang dan samir.
Sedangkan untuk peziarah perempuan harus mamakai kemben dan kain panjang.
Penggunaan pakaian adat tersebut merupakan
aturan wajib. Hal tersebut menurut persepsi umum hanya karena alasan
mempertahankan tradisi. Akan tetapi dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman
seseorang, persepsi tersebut berkembang. Tidak hanya sebatas tradisi namun
memiliki makna filosofis dan konsekuensi tersendiri ketika melanggarnya.
Sebagai seorang muslim yang mengenal
aturan berpakaian sesuai dengan ajaran islam, tidak jarang muncul pertanyaan
bahwa pakaian yang digunakan peziarah perempuan tidak menutup aurat padahal
bukankah raja-raja imogiri adalah raja-raja islam? Hal tersebut disangkal oleh
Roro.[13]
Ia mengatakan bahwa Kerajaan mataram merupakan kerajan islam ditanah jawa yang
masih tercampur dengan budaya hindu. Sehingga secara adat istiadatnya tidak
sepenuhnya mengikuti syari’at islam, melainkan akulturasi budaya Jawa, Islam
dan Hindu.[14]
Penggunaan pakaian adat jawa adalah hal
lumrah yang digunakan warga keraton saat jumeneng menghadap raja. Sebagaimana
persepsi yang dipaparkan abdi dalem makam raja-raja imogiri terkait alasan
peraturan pemakaian pakaian tersebut adalah untuk melestarikan tradisi menghadap
raja sebagaimana ketika raja masih hidup.[15]
Sementara itu menurut pak Jogosutrisno,
alasan pergantian pakaian tersebut sebagai simbol perpindahan dari alam dunia
ke alam akhirat. Dimana tujuan orang berziarah adalah mengingat mati, mengingat
akhirat. Sehingga perlu melepaskan pakaian-pakaian duniawi supaya lebih
komprehensif dalam melakukan ziarah.
Lain halnya persepsi yang dipaparkan oleh
Anik[16]
bahwa pelanggaran peraturan pemakaian adat ada konsekuensinya. Apabila
menggunakan pakaian yang tidak sesuai, maka saat berada diarea makam akan diweruhi.[17]
Anik mengaku bahwa sosoknya yang kini telah memahami ajaran islam secara lebih
mendalam, ia tidak sampai hati untuk membuka kerudung mengikuti aturan pakaian
peziarah. Anik juga tidak ingin melihat hal-hal yang tak diinginkan. Sehingga
ia memilih menunggu para kerabatnya yang berziarah diluar makam. Ia mengatakan
percaya pada hal ghoib bukan berarti syirik tapi menegaskan bahwa di Islam pun
juga diajarkan untuk mempercayai hal-hal yang ghoib.[18]
3.
Gentong atau Kong, Air
dan Persepsi Masyarakat
Gentong
atau Kong ini berjumlah empat buah yang letaknya disebelah utara pendopo Supit
Urang. Masing-masing diletakkan diatas dasar batu berbentuk persegi panjang
yang dibawahnya dipasang batu hitam sebagai pondasi. Keempat gentong ini
merupakan hadiah persahabatan dagang antara kerajaan Mataram dengan Palembang,
Aceh, Turki dan Thailand. Setelah Sultan Agung wafat keempat gentong ini
ditempatkan di makam raja-raja Mataram di Imogri, sebagai tempat air untuk
berwudhu. Pada awalnya air yang berasal
dari gentong ini hanya boleh digunakan oleh kerabat kraton saja, tetapi
lama-kelamaan masyarakat dapat meminta airnya.[19]
Air
di dalam gentong ini berasal dari sumber air bekung yang jaraknya sekitar
7 km dari makam. Air dari gentong ini dipercaya dapat membawa berkah. [20]
Menurut
Abdi Dalem, air yang berasal dari gentong ini hanya dapat diminum saat ada
keperluan saja, diiringi dengan niat dalam hati serta bacaan basmallah sebelum
meminumnya. Dari pemaparannya bahwasanya air ini bisa dicampur dengan air tawar
biasa, tetapi air yang berasal dari gentong ini tidak boleh dimasak karena akan
menghilangkan sifat kemurniannya.[21]
Sementara itu menurut Pak Jogosutrisno yang juga seorang
abdi dalem, sebelum meminum air tersebut dianjurkan membaca Al-Fatihah disertai
hajat yang diinginkan. Kemudian ia menambahkan bahwa air ini hanya sebagai
perantara saja. Mengenai terkabulnya hajat kembali pada kehendak Allah.[22]
4. Tangga dan Filosofinya
Bagi
masyarakat Jawa, makam Imogiri yang dibangun tahun 163 itu memiliki nilai
sakral yang tinggi.
Tangga
yang mulai dari Masjid berjumlah sebanyak 409 trap, anak tangga ini merupakan
jalan untuk menuju ke puncak makam. Menurut mitos, seperti yang diceritakan
oleh narasumber, bahwasanya untuk mencapai puncak tangga makam lokasinya cukup
tinggi. Tangga ini bisa dijadikan ramalan nasib para peziarah. Mitos setempat
menyatakan bahwa barang siapa bisa menghitung jumlah tangga waktu peziarah naik
dengan waktu peziarah turun secara benar dan jumlahnya sama maka keinginannya
akan terkabul.[23]
Anak
tangga yang berjumlah 409 ini mengandung makna bahwa kitab suci ada 4, angka 0
melambangkan tahun suci dan angka 9 melambangkan penyebar agama Islam di Jawa,
yaitu wali yang sembilan yakni Walisongo.[24]
Banyak orang Jawa percaya
bahwa orang yang mempunyai niat buruk tidak akan bisa mendekati sebuah
keramatan, karena makam-makam suci dijaga oleh para jin, yang bisa melihat
kemurnian niat para peziarah dan mengusir mereka yang berkenginan tidak baik.[25]
C. Analisis Teori
Berkaitan dengan teori munculnya agama menurut Durkheim dan kasus
persepsi masyarakat terhadap makam Raja Mataram di Imogiri, dapat diketahui
bahwa masih ada sebuah kepercayaan dalam masyarakat yang masih memiliki sifat
primitif. Primitif disini bermaksud bahwa masyarakat masih meyakini hal-hal
ghaib terhadap benda dan makam. Keyakinan dengan mendo’a kan raja yang dianggap
memiliki kebesaran dan do’a tersebut akan melimpah kepada si pendo’a merupakan
sebuah perspektif yang banyak beredar dalam masyarakat. Perspektif tersebut
dikuatkan dengan hasil wawancara kami dengan seseorang yang bernama Sri
Muryanti. Wanita yang berprofersi sebagai tour guide ini mengemukakan
bahwa alasannya berziarah adalah untuk mendoakan Sultan Agung, dan mengharap
agar diberikan keberkahan dan kesolehan seperti halnya yang didoakan, yakni
Sultan Agung. Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa ia tidak meminta “sesuatu”
kepada makam. Dengan tegas ia mengatakan bahwa terkabulnya doa itu kembali
kepada Allah.[26]
Selain perspektif yang telah dijelaskan, terdapat sebuah keyakinan
yang bersifat mistis, yaitu seperti meminta pesugihan dan keberkahan. Dalam hal
ini, peneliti langsung melihat seorang wanita parubaya meminta bunga yang
ditabur diatas makam untuk dibawa dan digunakan saat mandi. Namun peneliti
tidak mengetahui maksud pribadi dari wanita tersebut dikarenakan tidak dapat
mewawancarainya secara langsung. Di dalam makam juga terdapat sebuah gentong yang diyakini berasal dari
empat kerajaan, yaitu : Palembang, Aceh, Turki dan Thailand. Banyak masyarakat
yang meyakini seperti Ibu Sri Muryanti, bahwa jika kita meminum air dalam
gentong akan terkabul hajatnya karena air yang diminum merupakan air yang
terkena limpahan do’a dari para peziarah, selain gentong juga terdapat mitos
tentang anak tangga yang jika pengunjung dapat menghitung saat menaiki dan
menuruni tangga kemudian jumlahnya sama saat naik dan turun, maka orang
tersebut akan terpenuhi hajatnya, informasi tersebut diperoleh dari wawancara
dengan saudara Siwo.
Dapat kita analisis, bahwa perspektif dari
masyarakat terhadap makam raja-raja Imogiri, benda serta mitos yang ada
memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat yang melaksanakan ritualnya. Melakukan
ziarah dan mendo’akan raja, maka si pendo’a akan mendapatkan keberkahan seperti
yang didapat oleh raja semasa hidup seperti kejayaan dan kekuatan, menghitung
anak tangga dan meminum air dalam gentong dapat membuat hajat tercapai,
merupakan realita yang saling berkaitan dengan teorinya Emile Durkheim yang
menyatakan bahwa sebuah agama muncul karena adanya sebuah kebutuhan masyarakat
dalam kehidupan sosialnya, lalu kebutuhan tersebut di aplikasikan dalam bentuk
sebuah ritual dan adat istiadat yang sakral.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Makam Raja-raja Imogiri mataram terletak berada
di wilayah kelurahan girirejo dan kelurahan wukisari. Makam tersebut merupakan makam yang masih di sakralkan
oleh keluarga keturunan kerajaan Mataram dan kebanyakan masyarakat Jawa.
Pada umumnya, para peziarah yang
datang ke Makam Raja-Raja Mataram Imogiri memiliki persepsi yang berbeda-beda
tentang makam tersebut. Selain itu, tujuan peziarah mengunjungi Makam Raja-Raja
Mataram Imogiri ini juga bermacam-macam. Ada yang bertujuan untuk meneliti,
mendoakan para raja, dan ada juga yang
mengharapkan “sesuatu”, seperti berkah, kesehatan, kekayaan, dan keselamatan.
Teori Durkheim berkenaan dengan
perspektif masyarakat terhadap makam raja-raja Imogiri merupakan sebuah
keterkaitan dalam analisis tulisan ini. Makam Imogiri dianggap sakral oleh
masyarakat karena raja yang dimakamkan memiliki keistimewaan sewaktu hidupnya.
Air dalam gentong, dan benda yang dikeramatkan merupakan sebuah penyakralan
oleh masyarakat. Berkaitan dengan ini, teori Durkheim juga membahas tentang
pembagian agama dalam dua hal yaitu sakral dan profan. Dalam hal sakral,
masyarakat memiliki kesepakatan terhadap benda-benda yang di sakralkan, karena
kesakralan tersebut bersifat global. Berkaitan dengan hal profan, hal tersebut
menjadi pandangan yang bersifat personal karena lebih bersifat ke hal duniawi.
Sistem kepercayaan yang dianut
dalam masyarakat terhadap tradisi yang ada dalam makam raja-raja Mataram
memiliki fungsi bagi masyarakatnya. Fungsi tersebut tampak jelas dari keyakinan
yang dianut, seperti meminum air di gentong akan memudahkan dalam mencapai
hajatnya. Oleh karena itu, fungsi tersebut menjadi sebuah pola hidup yang
bersifat mengakar dan menjadi kesepakatan moral yang mentradisi.
DAFTAR PUSTAKA
Haryono, K, “Motivasi dan Prosesi Peziarah Makam Raja-Raja Mataram
Imogiri”, Skripsi, Yogyakarta: UIN
Sunan Kalijaga, 2007.
Imam Muhni, D, Moral dan Religi, Yogyakarta:
Kanisius, 1994.
Rofiqoh, “Pengaruh Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri dalam Pandangan
Masyarakat”, Skripsi, Yogyakarta: UIN
Sunan Kalijaga, 2006.
DAFTAR WAWANCARA
Senin, 20 November 2017
Wawancara dengan Pujihartono, penjual di area makam
Wawancara dengan Sri Muryati, tour guide
Wawancara dengan Amin, penduduk asli dan penjual di area makam
Wawancara dengan beberapa abdi Dalem
Wawancara dengan Ungki dan Lina, wisatawan
Wawancara dengan Ibu Sri Sumiyati
Kamis, 24
November 2017
Wawancara dengan
Siwo, peziarah
Sabtu, 26
November 2017
Wawancara dengan
Sutrisno, peziarah
Wawancara dengan Yatno,
peziarah
Wawancara dengan
Sarwoko, abdidalem
Wawancara dengan
Roro, peziarah trah keturunan raja mataram ketiga
Wawancara dengan
Anik, peziarah trah keturunan raja mataram ketiga
Wawancara dengan
Jogosutrisno, abdidalem
Wawancara dengan
beberapa juru kunci makam
LAMPIRAN FOTO
Tim Peneliti
Proses Wawancara
Pelayanan Air dan Tahlilan di Area Makam
[1] Djuret A. Imam Muhni, Moral
dan Religi, (Yogyakarta, Kanisius, 1994), hlm. 46.
[2]Kholid
Haryono, “Motivasi dan Prosesi Peziarah Makam Raja-Raja Mataram Imogiri”,
Skripsi (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2007), hlm 64-65
[3]Wawancara
dengan Siwo, Peziarah tanggal 24 November 2017
[4]Wawancara
dengan Pujihartono, penjual di area makam tanggal 20 November 2017
[5]Wawancara
dengan Sri Muryanti, tour guidetanggal 20 November 2017
[6]Wawancara
dengan Siwo, peziarah tanggal 24 November 2017
[7]Wawancara
dengan Sutrisno, peziarah tanggal 26 November 2017
[8]Wawancara
dengan Yatno, peziarah tanggal 26 November
2017
[9]Wawancara
dengan Sarwoko, Abdi Dalem tanggal 26 November 2017
[10]Wawancara
dengan Roro, peziarah tanggal 26 November 2017
[11]Wawancara
dengan Ungki dan Lina, wisatawan tanggal 20 November 2017
[12]Wawancara
dengan Amin , penjual tanggal 20 November 2017
[13] Keturunan raja mataram
ke-tiga
[17]Diperlihatkan hal-hal
aneh seperti penampakan makhluk halus (putih-putih, dsb)
[19] Wawancara dengan Ibu
Sri Sumiyati, tanggal 20 November 017.
[20] Ibid.
[23] Wawancara dengan Ibu
Sri Sumiyati, tanggal Duapuluh November 017.
[24]Skripsi Rofikoh, hal. 34
[25] Ibid.hlm. 35
[26]Wawancara dengan Sri
Muryanti, tour guide tanggal 20 November 2017
0 komentar:
Posting Komentar